KALIMAT MAJEMUK

KALIMAT

1. Kalimat adalah bagian ujaran yang didahului dan diakhiri dengan kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa ujaran itu makna gramatikalnya sudah lengkap. Kelengkapan bagian ujaran itu ditandai oleh struktur kalimat – adanya subyek dan predikat, dan secara fakultatif ada pula obyek – dan perwujudan pikiran yang lengkap itu mengandung informasi yang jelas yang direfleksikan melalui pikiran tadi. Intonasi final kalimat berupa tanda baca titik, tanda tanya, atau tanda seru. Namun ada juga kalimat yang hanya terdiri dari predikat.
Contohnya:
‘Tembak!’

2. Ciri-ciri Kalimat
a. Terdiri atas satu kata atau lebih, lazimnya lebih dari satu kata.
b. Umumnya dalam susunan:
1) S – P
2) S – P – O
3) S – P – O – O
4) Keterangan hanya sebagai ‘penjelas’ dan tidak mutlak ada.
c. Dimulai dengan huruf besar dan diakhiri dengan titik.
d. Subyek dan predikat dapat dimutasikan.
e. Dalam kalimat tulis, subyek dan predikat harus eksplisit.
f. Dalam kalimat lisan salah satu unsur atau lebih dari S, P, O , atau K,
dapat dihilangkan.
g. Kalimat dengan kalimat dapat digabung, menjadi kalimat majemuk setara, atau kalimat majemuk bertingkat, atau kalimat majemuk campuran, atau menjadi paragraf.

3. Unsur kalimat adalah: subyek (S), predikat (P), obyek (O), pelengkap (P), dan keterangan (K).

a. Subyek: Subyek adalah unsur kalimat yang menunjukkan pelaku.
Subyek dapat berupa:
1) kata benda atau kata yang dibendakan (frasa nominal)
Contoh:
Pertemuan itu ditunda sampai minggu depan. (Subyek, Pertemuan itu,
kata benda)
Panasnya sangat menyengat. (Subyek, Panasnya, kata keadaan yang
dibendakan)
Mahasiswa yang pemalu itu memenangkan lomba melukis.
(Subyek, Mahasiswa yang pemalu itu, frasa nominal)

2) Subyek disertai kata ganti penunjuk, ini, itu, dan tersebut yang ditempatkan di
antara subyek dan predikat, bahkan kata ganti penunjuk itu sendiri dapat
bertindak menjadi subyek
Contoh:
Perhiasannya anggun. (Meja itu, subyek)
Itu perhiasan anggun. (Itu, subyek)

3) Subyek berupa jawaban atas pertanyaan apa yang dan siapa yang.
Contoh:
Buku itu saya serahkan.
Saya menyerahkan buku itu.

4) Subyek boleh didahului kata tugas, yaitu kata depan dan kata penghubung,
kecuali bahwa. Kata tugas ini berfungsi untuk memperluas kalimat.
Contoh:
Sudah kami ketahui bahwa ia tidak datang.
Telah terbukti bahwa ia mencuri.
Dari hasil laboratorium diketahui bahwa golongan darah mereka sama.

1. Subyek dapat diberi keterangan pewatas yang
Keterangan pewatas yang ditempatkan di belakang kata atau kelompok kata yang bertindak sebagai subyek.

Contoh:
Icuk Sugiato yang juara dunia bulu tangkis tahun 1983 kalah lagi
bertanding dengan Yang Yang.

2. Subyek dapat dihilangkan dalam kalimat majemuk.
Contoh:
Mereka ingin pulang karena (mereka) sudah terlalu letih.
Mereka ingin pulang karena sudah terlalu letih.
Dia bukan dokter melainkan (dia) produser film.
Dia bukan dokter melainkan produser film.

b. Predikat: Predikat adalah bagian kalimat yang memberitahu subyek melakukan apa
atau subyek dalam keadaan bagaimana. Predikat dapat berupa kata atau frasa, sebagian besar berkelas verba atau ajektiva, tetapi dapat pula nomina atau frasa nominal.

1. Predikat berupa kata (kata benda, kata kerja, kata sifat, kata bilangan, dan kata depan) dan kelompok kata.
Predikat ditempati oleh lima kelas kata atau kelompok kata sbb.:
a. Predikat berupa kata benda atau frasa nomina
Mereka itu mahasiswa.
Bapak itu pimpinan perusahaan
b. Predikat berupa kata kerja atau frasa verba
Mereka belajar di teras rumah.
Dia datang memenuhi janjinya.
c. Predikat berupa kata sifat atau frasa ajektiva.
Mereka malas ke sekolah pagi ini.
Harganya mahal sekali.
d. Predikat berupa kata bilangan atau numeralia.
Kenaikan rata-rata 5 %.
Jumlah penonton sekitar seribu orang.

2. Predikat itu merupakan jawaban atas mengapa atau bagaimana.
Mereka sedang berdiskusi.
Pertemuan itu kurang menarik.

3. Permutasian Predikat dengan Subyek
Dosen itu datang terlambat.
Datang terlambat dosen itu.

4. Predikat dapat didahului kata (-kata) keterangan aspek atau modalitas.
Orang itu (sudah, akan, belum, telah) menjadi wartawan terkenal di
ibukota.

5. Peran dalam predikat
Peran predikat dalam kalimat mengungkapkan tiga informasi, yaitu:
a) pernyataan
b) perintah, dan
c) pertanyaan

a. pernyataan
Contoh:
Pedagang terkenal itu anak seorang nelayan
(Predikat berupa frasa nominal)
b. perintah
Dalam peran perintah perlu diperhatikan beberapa cacatan penting.
i. Subyek dapat ditiadakan
ii. Setiap kalimat diakhiri dengan tanda seru.
iii. Dapat berupa kata kerja tanpa imbuhan (aus) seperti: pulang, pergi, gerak, dan tenang.
iv. Partikel lah mempertegas (kalimat) perintah
v. Kata-kata seperti: ayo, silahkan, mari, oke, dilarang, jangan, dan harap memperhalus peran perintah menjadi ajakan, permohonan, dan larangan, sepeti contoh:

Harap tenang!
Perhatikan baik-baik!
Jangan dibagikan dahulu!

c. Pertanyaan
Peran pertanyaan dinyatakan dengan intonasi menaik dan menurun serta tanda tanya (?) dalam kalimat tulis.
Perlu diketahui beberapa hal tentang peran pertanyaan ini.
i. Semua kelas kata atau frasa yang menempati predikat dapat menyatakan pertanyaan seperti terlihat dalam semua contoh
ii. Partikel kah dapat ditambahkan sebagai penekanan
Contoh: Marahkah dia?
iii. Dengan merubah intonasi, yaitu intonasi menaik atau menurun,
predikat pernyataan dapat menjadi predikat pertanyaan
Contoh: Dia ke sini kemarin. (Pernyataan)
Dia kesini kemarin? (Pertanyaan)
iv. Kata tanya seperti: apa, siapa, bagaimana, mengapa, di mana, kapan
dapat ditambahkan dan intonasi kalimat akan menurun.
Contoh: Apa isi surat ini?

a. Obyek Kalimat:
Unsur Obyek melengkapi kesempurnaan kalimat aktif transitif.
Kehadiran Obyek merupakan suatu keharusan.
1) Obyek hanya terdapat dalam kalimat aktif transitif
Contoh: Nurul menimang adik.
Dia menceritakan pengalamannya.
1. Obyek selalu terletak di belakang predikat dengan pola
subyek – predikat – obyek atau pola predikat – obyek – subyek.
Contoh: Mereka mendiskusikan GBHN
Mendiskusikan GBHN mereka?
2. Obyek tidak boleh didahului oleh kata depan atau kata penghubung kecuali kata bahwa yang sebenarnya lebih menunjukkan kenominalan obyek
Contoh: Dia menceritakan bahwa pengalamannya selama
setahun di tahanan lebih banyak dukanya daripada
sukanya.
3. Obyek ditempati oleh jenis kata benda, frasa nomina, dan klausa nomina.

Obyek dalam kalimat aktif transitif dapat berubah menjadi subyek dalam kalimat
pasif dengan pergantian awalan me- menjadi awalan di- pada unsur predikat.
Tetapi, tidak semua kalimat pasif mempunyai obyek. Selain itu, obyek pada kalimat aktif transitif disebut obyek penderita atau yang dikenai tindakan dari unsur subyek. Obyek yang terdapat pada kalimat pasif merupakan obyek pelaku dengan sasarannya unsur subyek.

Bagan berikut memudahkan pembaca untuk mengamati kembali hal-hal yang berkaitan dengan unsur-unsur kalimat.

Tanda / Unsur Subyek Predikat Obyek
pertanyaan apa yang mengapa terkait
siapa yang bagaimana predikat
pemeranan pelaku pernyataan ob. Pelaku
penderita perintah ob. Penderita
zero pertanyaan ob. Penyerta
seruan
permutasian boleh di belakang boleh mendahului dapat menjadi
predikat subyek subyek pada
kalimat pasif
penempatan kata benda dan kata benda, kata sifat, kata benda
frasa nomina kata kerja, kata bi- dan frasa
langan, kata depan
perwatasan kata yang, ini, kata adalah, ialah, langsung di be-
Itu, tersebut merupakan lakang predikat
pelarangan didahului kata didahului kata sam- didahului
depan dan kata bung sebagai pe- kata bahwa
penghubung nanda keterangan
pemungkinan didahului kata didahului kata didahului kata
bahwa dan akan, sudah, belum, bahwa
yang mau, hendak,
ingin
____________________________________________________________________

d. Pelengkap: Pelengkap adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat.
Letaknya umumnya di belakang predikat.
Antara Obyek dan Pelengkap terdapat perbedaan.

Contoh: Ketua MPR membacakan Pancasila.
S P O
Ibu berdagang makanan.
S P Pel

e. Keterangan: Keterangan (Ket. ) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal tentang bagian kalimat. Unsur Ket. dapat berfungsi menerangkan
Subyek, Predikat, Obyek, dan Pelengkap. Posisinya dapat di awal, di
tengah, atau di akhir kalimat. Pengisi Ket. adalah frasa nominal, frasa
preposisional, adverbia, atau kausa.
Contoh:
Polisi menyelidiki masalah itu dengan hati-hati.
Rustam sekarang sedang belajar.
Karena hujan, saya tidak pergi.

4. Pola Kalimat Dasar
Kalimat yang paling sederhana berpola S-P, meskipun ada yang hanya berpola P. Yang paling kompleks adalah yang berpola S-P-O-Pel-Ket.
Contoh:
1. S-P: Saya mahasiswa.
2. S-P-O: Rani mendapat hadiah.
3. S-P-Pel: Beliau menjadi ketua koperasi.
4. S-P-Ket: Kami tinggal di Jakarta.
5. S-P-O-Pel: Dia mengirimi ibunya uang.
6. S-P-O-Ket: Riska menyimpan uang di bank.
7. S-P-O-Pel-Ket: Rudy membelikan anaknya boneka tadi siang.

5. Jenis Kalimat
Kalimat dapat berupa:
a. Kalimat tunggal
b. Kalimat majemuk:
1) setara
2) bertingkat
3) campuran
a. Kalimat Tunggal:
Kalimat tunggal hanya mengandung satu klausa. Kalimat tunggal dapat dilengkapi atau diperluas dengan menambah satu unsur O, Pel, dan Ket.
Selain itu unsur S dan O dapat pula diperluas lagi dengan memberinya
keterangan. Jadi kalimat tunggal tidak harus pendek.
Contoh: Kami mahasiswa Indonesia.
Sekarang Dr. Pratiwi telah melangkah ke teknologi canggih.

b. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah gabungan dari dua atau lebih kalimat tunggal.
Dapat berupa kalimat:
1. majemuk setara
2. majemuk bertingkat
3. majemuk campuran

1) Kalimat Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara dibentuk dari dua atau lebih kalimat tunggal,
dan tiap kalimat sederajat.
Penghubung atau konjungtornya adalah:
a. koma b) titik koma
c) dan d) atau
e) lalu f) tetapi

Contoh:
Adik bermain-main, ibu memasak.
Jagung itu sudah masak; petani segera memanennya.
Ibu memasak dan ayah membaca.
Kamu boleh kuliah atau bekerja.
Rumahnya terbakar lalu dipadamkannya.
Saya mau pergi dengan angkot, tetapi angkotnya mogok.

1. Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat dibentuk dari satu induk kalimat (IK) dan
satu atau lebih anak kalimat (AK). Bila AK mendahului IK, sesudah AK
diberi koma.
Contoh: Saya tidak pergi bila hujan.
IK AK

Bila hujan, saya tidak pergi.
AK IK

AK dapat berupa keterangan:
a. waktu: Sehabis hujan, Jakarta banjir.
b. syarat/pengandaian: Seandainya sehat, kakek akan datang.
c. tujuan: Supaya lulus, kamu harus belajar.
d. konsesif: Biarpun sakit, ia kuliah juga.
e. perbandingan: Ibarat bunga, gadis pun dapat layu.
f. sebab: Karena malas, ia tidak naik kelas.
g. akibat: Ia berteriak-teriak sehingga lehernya sakit.
h. cara: Tanpa memperhatikan keramain lalu lintas, ia
menyeberang.
i. kemiripan: Ia merasa bahagia sekali, seolah-olah ada di sorga.
j. pewatas: Orang yang membawa tas itu bapak saya.

3) Kalimat Majemuk Campuran (KMC)
KMC adalah gabungan antara kalimat majemuk setara dan kalimat
majemuk bertingkat.
Contoh: Matahari pagi menyapa bukit-bukit dan lembah yang masih
berselimut kabut.
Dua kalimat majemuk bertingkat yang dihubungkan dengan kata
penghubung dan
i) Matahari pagi menyapa bukit-bukit yang masih berselimut kabut.
IK AK
ii) Matahari pagi menyapa lembah yang masih berselimut kabut.
IK AK

untuk mendownload file ini disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s